Selasa, 27 November 2012

Sepotong Kenangan


Tadi pagi setelah sholat shubuh, nenek berbisik padaku dengan suara lemah.. “terima kasih sudah mbersihkan smua najis yang ada di badanku supaya sah shalatkku, terima kasih banyak”, hamper tiap kali selesai sholat nenek slalu menngatakan itu padaku.. nenekku sayang.. rasanya blum pantas aku untuk terima kasih itu bila dibandingkan yang engkau berikan untukku…
teringat belasan tahun lalu saat pertama kali masuk sekolah SD, kau yang mengantarkan aku sampai kelas, menunjukkan jalan dari rumah ke sekolah lalu menemui guruku untuk menitipkanku, Kau juga menggandeng tanganku menyusuri pasar mencari sepatu hitam untuk sekolahku. Tak hanya itu saat masuk SMA, terpaksa kau kugandeng karna jika daftar sekolah harus ada orang tua padahal kau mulai sakit sakitan dan agak tuli saat itu, lucu sekali saat petugas pnerimaan mjelaskan prosedur masuk skolah dia harus mjelaskan berulang ulang.
Saat kelas 4 sd kau mulai mengajarkan aku cara mencuci piring sendiri, mencuci baju sendiri, membuat the di pagi dan sore hari juga menata meja makan serta memasak nasi. Walau kadang kesal karna aku lebih suka bermain pada saat itu
Menyuruhku belajar naik sepeda, motor dan berenang setelah itu menyuruhku belajar menjahit menyulam, membereskan tempat tidur… semakin kesal rasanya, kau tak pernah membiarkan aku duduk diam dpan tv menonton film kartun
Kau juga memaksa aku untuk mengerti bahasa bugis agar tak kehilangan identitas katamu waktu itu sambil terus mengoceh dengan tema berulang ulang yaitu ‘SIRI’ waktu itu aku masih belum mengerti tapi kau terus saja bicara dengan bahasa bugis “siri itu adalah kehormatan, siri itu harga diri, hal ini yang akan membedakan kita dengan yang lainnya, jaga siri’mu.. jangan kau hianati nenek moyang dan keturunanmu kelak” menjelang dewasa baru aku paham seutuhnya betapa hal itu sangat penting untuk dijaga.
Kau bukan nenek yang memanjakannku dengan mainan yang banyak ataw menuruti semua keinginanku, kini ku tahu yang kau lakukan itu semata mata untuk menjaga aku dari semua dampak negative bebasnya jaman dan pergaulan yang tidak sehat di kota metropolitan ini.
Meski belum sempurna kesuksesan kuraih, paling tidak aku bisa menjadi akuntan yang gak gaptek gaptek amat (masa seeeh) dengan hati yang terjaga (kaya judul sinetron mana gitu) serta bisa masak nasi  (bdasarkan pngalaman rekan kerja sebayaku sangat jarang ada yang bsa masak nasi lho) serta pandai merajut lohh…hehehehe…. #Klo Narsis_akut ini bukan ajaran nenek gw kok#
Ah apalah arti yang kulakukan semua untukmu dibanding yang engkau lakukan untukku. Nunu cucumu akan tetap berumur 16 tahun jika tak pandai membuat ‘nasu likku’
21 april 2011, 12:14 am
(kamar gelap d belakang tanpa jendela)