Kamis, 30 Juli 2020

Sereun Taun di Ciptagelar (Bag. 4 - Malam di ciptagelar)


Padi adalah sumber kehidupan bagi warga Ciptagelar. Banyak upacara yang dilakukan sesuai proses tanam padi. Sereun Taun merupakan upacara panen raya sekaligus prosesi paling utama dengan inti acara meletakkan padi di lumbung (leuit) yang dilakukan pemimpin desa (Abah didampingi ambu) . Biasanya dilaksanakan akhir agustus atau september, dilakukan 3 hari 3 malam dengan berbagai acara hiburan untuk masyarakat dan para tamu yang antusias untuk menyaksikan setiap tahunnya.

Saat itu sekitar jam 5 sore waktu setempat, gw sampai di gerbang desa adat ciptagelar.
seperti gw sebutkan di post sebelumnya, Dari gerbang desa para warga berbaris memainkan alat musik sederhana dari bambu dan tembang tembang berbahasa sunda. Truk yang kami tumpangi mulai jalan perlahan lahan, antri menunggu giliran untuk parkir, Ternyata banyak sekali orang yang hadir di upacara sereun taun dan seperti di desa sinar resmi kami harus diantarkan ke imah gede untuk bertemu abah terlebih dahulu untuk memberi salam.

menunggu antrian di truk terasa menyenangkan karena udara sejuk khas pegunungan, pemandangan yang alami, lumbung padi (leuit) berjajar rapih, warga setempat ramah menyambut bikin gak sabar buat turun dari truk.

setelah sekitar 20 menit kami sampai giliran untuk turun di samping imah gede, sementara kami turun, koordinator rombongan bertemu dengan ajudan abah untuk melaporkan jumlah rombongan, nginap dimana dan hal hal lain untuk pendataan. Suasana saat itu sangat ramai. selain rombongan gw ada kelompok mahasiswa, anak sekolah, wisatawan lokal dan mancanegara, media nasional dan internasional juga ada juga beberapa tamu yang merupakan anggota keluarga kerajaan lain di nusantara, mereka naik jip, dari auranya memang berbeda sih. waw

gak lama kemudian, gw dan rombongan di briefing. kita akan bertemu abah untuk mengucapkan salam "sampurasun" lantas ke homestay yang merupakan rumah warga lokal, bersih bersih sebentar dan kembali ke Imah Gede untuk makan malam dan ikut serta dalam rangkaian acara malam ini.

selain salam ke abah hal hal yang harus kami perhatikan adalah

1. Harus menghabiskan nasi yang kami ambil.
Di Imah Gede akan selalu tersedia makanan yang disediakan olah para "baris kolot". Konon mereka menyediakan makanan serta masak 3 hari 3 malam tanpa henti bergantian dan semuanya gratis. Padi sendiri merupakan hal penting untuk menghidupi manusia, Jadi pantang untuk dijual. karena dengan menjual padi maka sama saja kita menjual kehidupan. Padi juga harnya ditanam 1 tahun sekali, Setelah ditanami padi maka tanah harus diistirahatkan untuk menjaga keseimbangan alam. Meski hanya panen tahun sekali, hasilnya tetap berlimpah bahkan berlebihan padahal setiap tahunnya di acara adat ada ribuan orang yang datang diberi makan juga. Wisatawan yang datang pada weekend juga terus ada, lumbung padi persediaan pangan disana cukup sampai 10 tahun kedepan. padi pun bebas dari pestisida dan pupuk kimiawi, bibit di produksi sendiri, dipadu dengan teknik masak dengan cara di akeul membuat nasi disana "nikmat rasa sehat". Dari cara mereka menghargai makanan tersebut maka kami di wanti wanti untuk menghabiskan setiap butir nasi yang kami ambil karena kalo ada sisa itu tandanya kita tidak menghargai orang yang menyediakan makanan, kalo kurang bisa nambah lagi kok!!

2. Menggunakan sarung
memakai kain lilit sebagai bawahan kalau ke Imah Gede. gw lupa dan gak sempat menggali kenapa kita harus pakai sarung, mungkin simbol sopan santun saja dan untuk menghindari pakaian yang nyeleneh dari warga luar, kan gak asik banget juga kali lagi mau ada ritual adat tiba tiba ada yang lewat pake dress mini atau hotpans.

3. Menjaga Prilaku dan Kebersihan Desa
Selayaknya tamu yang disambut terbuka dan ramah adalah kewajiban kami untuk menjaga prilaku dengan tidak bicara kasar dan sembarangan, menjaga kebersihan desa, harus merapihkan kembali sisa sisa makanan atau kegiatan dan membuang sampah tidak sembarangan. tidak pula merusak tanaman dan menjaga barang pribadi tentunya.

Tibalah giliran rombongan kami untuk melakukan sampurasun ke Abah, abah merupakan pimpinan tertinggi di kasepuhan cipta gelar namanya Abah Ugi Sugriana Rakawisi, Abah Ugi masih tergolong muda namun sangat kharismatik. saat itu abah didampingi Ambu. kami tidak terlalu panjang berbincang dengan abah karena hari itu tamu banyak sekali. Dari yang gw denger Abah Ugi sendiri memimpin sejak tahun 2007 setelah abah sebelumnya mangkat. Beliau sangat terampil di bidang eletronik dan menginisiasi untuk membuat 4 buah turbin yang menjadi sumber daya listrik warga desa serta membuat radio cipta gelar.

setelah itu gw menuju homestay, disana kami menitipkan barang, bersih bersih sedikit, memakai sarung dan bersiap siap ke imah gede. rumah warga disana menggunakan kayu dan bambu, hanya toilet yang boleh menggunakan batu bata dan semen. aku lupa siapa nama pemilik rumah yang kami tempati tapi aku jelas inget nama anaknya. usianya 1 tahun saat itu, namanya "LESTI" karena mama nya nge fans berat sama Lesty.. hahaha

langit mulai gelap gw dan rombongan ke Imah Gede untuk makan dan nonton berbagai pagelaran.
jalan menuju imah gede suasana sangat semarak, para warga desa berhamburan dijalan berbaur dengan dengan wisatawan, banyak pedagang seperti pasar malam. Sebagian warga juga bersiap siap menyambut acara besok dan mengisi acara malam ini. sampai di imah gede kami disambut baik oleh teteh teteh mempersilahkan makan. kami antri untuk makan. riuh sekali suasana imah gede. berbagai snack juga tersedia regginang, wajik, aneka snack rebus tak lupa teh tawar hangat.

Setelah makan kami smua berkumpul di balai halaman imah gede untuk menyaksikan pertunjukan beserta seluruh anggota keluarga kasepuhan. Ambu cantik sekali waktu itu, keluarga kasepuhan bersolek anggun menggunakan kebaya dan kain. sekitar jam 8 pertunjukan dimulai. diawali dengan suguhan pemuda pemudi dengan gerakan yang melambangkan aktivitas sejak bibit disemai hingga padi ditumbuk. tanpa backsound dan tata cahaya yang mumpuni. bagi beberapa warga kota yang terbiasa dengan suguhan wow dengan embel embel teknologi, menonton pertunjukan akan terasa monoton dan membosankan. tapi tidak buat warga desa. mereka tetap semangat dan semarak. gw sendiri sangat menikmatinya karena dibalik pertunjukan yang "sederhana" pasti ada banyak usaha sebelumnya, seperti latihan, deg deg annya. di beberapa sesi juga ada acara saweran. memberikan uang ditengah tengah pertunjukan.

acara di depan imah gede selesai. gw sama temen temen berkeliling, di panggung yang lain juga akan ada acara wayang semalam suntuk, jaipongan dll. cuma karena kami sudah lelah dari dengan aktivitas seharian. gw memutuskan pulang untuk istirahat setelah keliling saja.

foto di depan imah gede ciptagelar setelah selesai pertunjukan

keliling pasar malam yang menjual kerajinan khas lokal 

masih foto rame rame di pasar malam
 gw kembali ke homestay untuk istirahat, sisain tenaga buat acara puncak sereun taun besok








Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sereun Taun di Ciptagelar (Bag. 4 - Malam di ciptagelar)

Padi adalah sumber kehidupan bagi warga Ciptagelar. Banyak upacara yang dilakukan sesuai proses tanam padi. Sereun Taun merupakan upacara p...