Senin, 27 Juli 2020

SereunTaun di Ciptagelar (Bag. 3 dari Perjalanan)

Sekitar jam 3 pm waktu setempat

gw dan temen temen lain sudah berkumpul di halaman imah gede, beberapa rombongan sudah berangkat duluan, kami rombongan terakhir yang akan diangkut karena komunitas kami punya agenda sendiri sebelumnya.

Menuju Ciptagelar akan ditempuh sekitar 2 jam dengan TRUK, iyah dengan truk gengs.
setelah melewati desa sinar resmi memang jalanan tidak mulus, kalaupun ada yang beraspal pasti sudah hancur jadi yah sama aja rasanya seperti jalan berbatu. Seperti yang saya sampaikan di post sebelumnya kalau mobil pribadi/city car sangat tidak direkomendasikan. Bahkan di gerbang sinar resmi juga ada tulisan "hanya mobil 4 WD" atau hanya mobil dengan penggerak di roda depan dan belakang. Selain jenis itu, dijamin akan sulit untuk melewati medannya. Dijalan juga beberapa kali gw melihat beberapa orang kesana naik motor. bisa dicoba kalo yang mau. gw sih ogah.. hahaha

Masalah pertama saat memulai perjalanan ini adalah gw kesulitan naik ke atas truk. HIKS!!
iyah gw sebagai cewe menye menye, hari itu masih ngotot pake rok jins meski sebenernya pakai celana panjang dalemnya juga sih, tau tiba tiba tengsin (a.k.a insecure) pas mau naik ke atas truk. belum lagi becanda becandaan temen temen yang bukannya support malah bikin gw makin lemes donk. Sumpah itu drama banget dan gak sadar gw jadi tontonan emak emak sekampung. malu.. hiks... setelah drama 20 menitan dengan berbagai cara akhirnya gw bisa naik ke truk juga, tentunya naik sendiri tanpa bantuan dari temen2 dengan gaya dugong terdampar.. hore!!!


setelah berhasil naik truk, nungguin rombongan yang lain

sebelum berangkat, masih bisa senyum! pas dijalan mah hiks

Perjalanan dimulai, di truk berisi sekitar 20 an orang, karena tidak ada tempat duduk dan lantai mobil kotor, kita semua berdiri dengan "kuda kuda suka suka" yang penting nggah jatuh.  Desa tersebut terletak diantara lembah pengunungan halimun, waktu tempuh sekitar 2 jam dari Sinar Resmi. Jalanan menuju Ciptagelar hampir menanjak semua, kami menyebutnya tanjakan menuju langit karena kemiringannya membuat beberapa kali kita hanya dapat memandang langit, tidak bisa melihat jalannya, sepanjang jalan juga kita saling bahu membahu agar tidak ada yang jatuh, ada beberapa teman yang takut ketinggian harus jongkok agar tidak pingsan melihat jalan yang lebarnya hanya muat 1 mobil dan kanan kirinya jurang, perut seperti dikocok sepanjang perjalanan.. aduh kedengerannya gak enak ya geng..

Gw jawab dengan pasti, Enak banget malah, kita saling care satu sama lain, pemandangannya indah banget, langit bersih terus paling seru kalo kita papasan dengan truk lain yang bawa rombongan juga,  saling sapa kayak supporter bola trus karna sinyal mulai hilang yah jalan satu satunya supaya gak garing sendiri yah saling ngobrol becanda satu sama lain.. ahhahaha..

foto dijalan, tentu saja blur, jalanannya berbatu

Menempuh 2 jam perjalanan akhirnya kami sampai, di gerbang desa udah disambut dengan ramah, disepanjang jalan menuju kasepuhan ada barisan warga memainkan alat musik dari bambu. file foto dan videonya hilang. hiks...

kami diantar sampai imah gede, seperti di kasepuhan sebelumnya, kami juga diantar di pusat desa adat tersebut.
kalo turun dari truk gak sulit lah cukup pegangan tangan sama siapa yah, lupa aku..






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sereun Taun di Ciptagelar (Bag. 4 - Malam di ciptagelar)

Padi adalah sumber kehidupan bagi warga Ciptagelar. Banyak upacara yang dilakukan sesuai proses tanam padi. Sereun Taun merupakan upacara p...